Bahasa Aseli Ciledug, Aya deh ?

Posted on 4 November 2011

2


Oleh Deddy Madjmoe di Wong Ciledug Cirebon

Sebenarnya tidak ada bahasa aslinya Urang Ciledug, yang ada dialek Ciledug dan dialek ini kata Uwa Wikipedia tatanggana Buyut Google, kieu :

Bahasa Sunda Kuningan (Kabupaten Cirebon sebelah Timur, Kuningan dan Kabupaten Brebes wilayah Barat dan Selatan.

modol

Bahasa Sunda Kuningan atau yang secara ilmu kebahasaan lebih dikenal dengan Bahasa Sunda dialek Timur-Laut, merupakan ragam percakapan atau dialek Bahasa Sunda yang digunakan di wilayah Kabupaten Cirebon sebelah timur, di wilayah Kabupaten Kuningan dan wilayah Kabupaten Brebes sebelah barat dan selatan, tidak seperti Pada Bahasa Sunda Parean yang tidak mengenal pepel “eu” dan menggantinya dengan pepel “e” (contoh : heunteu di Bahasa Sunda Baku “dialek Selatan” yang berarti “tidak” dalam bahasa Indonesia, pada Bahasa Sunda Parean ditulis dan dibaca “hente”).

Bahasa Sunda dialek Timur Laut ini masih mempertahankan bentuk pepel “eu”, sehingga tidak begitu banyak perbedaan dengan Bahasa Sunda baku atau Bahasa Sunda dialek Selatan. berikut adalah contoh ragam percakapan Bahasa Sunda dialek Timur Laut yang digunakan di wilayah Kabupaten Cirebon sebelah Timur, tepatnya di wilayah Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, tepat dengan perbatasan dengan Kabupaten Brebes dan tidak jauh dari tapal batas dengan wilayah Kuningan :

Percakapan antara Masyarakat asli “Pituin” dengan Masyarakat Pendatang :

Si Ucok: “Heh kau barudak,, nempo sendal kami teu??”

Barudak: “Sendal nu kumadeh bang??”

Si Ucok: “Eta sendal nu karek meuli tadi isuk-isuk”

Barudak: “Wah teu nyaho bang” Teu lila datang Pa Haji nu kakarek kaluar ti Mesjid, sarua di tanya ku si ucok…

Si Ucok: “Pa Haji, sendal kami leungit pa haji”

Pa Haji: “Patuker (tertukar) meureun bang”

Si Ucok: “Bah..! Siapa pula eta pa tuker?? Wah kudu di bantai ku kami..!”

Pa Haji: “Doh si abang, Patuker teh Pahili”

Si Ucok: “Bah..! Duaan jeung si Pa Hili??? Wah duanana ku kami kudu di bantai..!”

Pa Haji: “Jeh di bere nyaho teh teu ngarti-ngarti nyaneh mah, *bari ngaleos sewot*

Lamun diartikeun ka Bahasa Indonesia, kira-kira kieu meuereun :

Si Ucok: “Heh kau anak-anak, lihat sendal saya tidak?”

Barudak: “Sendal yang bagaimana Bang?”

Si Ucok: “Itu Sendal yang baru dibeli tadi Pagi”

Barudak: “Wah gak tahu Bang” Tidak lama kemudian datang Pak Haji yang baru saja keluar dari Mesjid, sama juga beliau ditanya oleh si ucok…

Si Ucok: “Pak Haji, sendal saya hilang Pak Haji!”

Pa Haji: “Patuker (Tertukar) mungkin Bang!”

Si Ucok: “Bah..! Siapa pula itu Pak tuker?? Wah harus diberi pelajaran sama saya..!” (Ucok tidak mengerti Patuker, dan dikira nama orang “Pak Tuker”)

Pa Haji: “Duh si abang, Patuker itu Pahili (tertukar)”

Si Ucok: “Bah..! berduaan dengan si Pak Hili??? Wah dua-duanya oleh saya harus diberi pelajaran..!”

Pa Haji: “Jeh dikasih tahu kamu mah tidak ngerti-ngerti, *sambil sewot*

Penjelasan

walaupun Bahasa Sunda dialek Timur-Laut ini hampir serupa dengan Bahasa Sunda Baku atau Sunda dialek Selatan, namun ada beberapa kosakata yang berbeda, yakni penggunaan kata “Kami” untuk menyebut “Saya” yang berbeda dengan Bahasa Sunda Baku yang menggunakan kata “Abdi” dan juga ada beberapa kata seperti “Kumadeh?” yang berarti “Bagaimana?” yang berbeda dengan Bahasa Sunda Baku yang menggunakan kata “Kumaha” .Perbedaan Bahasa Sunda Kuningan dengan Bahasa Sunda Baku (dialek selatan)

Pada dasarnya ragam Bahasa Sunda dialek Timur-laut ini memiliki kosakata yang hampirserupa hanya pada beberapa kata tertentu memiliki perbedaan yang menjadi ciri Bahasa Sunda dialek Timur-laut ini. diantaranya.

Saya, pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah “Abdi” sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut menggunakan kata “Kami”, penggunaan kata “kami” ini serupa dengan yang dipakai pada Bahas Sunda Parean di wilayah Indramayu Kamu, pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah “Anjeuna atau Maneh” sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut menggunakan kata “Nyaneh” Siapa, Bagaimana dan Kenapa? pada Bahasa Sunda Baku digunakan istilah “Saha, Kumaha dan Naha?” sementara pada Bahasa Sunda dialek Timur-Laut ini menggunakan kata “Sadeh, Kumadeh dan Nadeh?” sebagai cirinya.

Geus ah sakitu bae, engke dilanjut deui carita Si Ucok ngalalana ka Ciledug nagwitna jadi kosipa naek pit bari mawa tas kuleuheu, ayeuna jadi bos besar di Ciledug.

Aya deui sok kami dialek wewengkon Ciledug, nya eta dialek campuran pendatang dari arab. Lamun dipirengkeun asa KAGUGU jiga ngomongna Mang Daan. Contona :

“Kata aku gen, jangan meledodin pohon turuy, tuh jadinya potong (Kata saya juga jangan melengkukan dahan pohon turi  (kami teu nyaho heh: meledodin teh)…kan jadi patah dahannya)”

Berita anyar baruk lapak “TUAK” bogana si Ucok dkk geus sampe dalapan titik, baruk deui geus dilaporkeur ka polisi tapi nyong kapolsekna sa marga keneh nya jadi pakiweh. Gkgkgkgkgkgkk…

Salam Ti Baraya Beulah Wetan Cirebon

Deddy Madjmoe

Posted in: Budaya