Banjir

Posted on 18 Oktober 2011

0


Sudah dua kali dalam dua hari hujan turun, ada kegundahan tersirat diwajah suamiku saat mendengar anak-anak pulang sekolah di SDN2 CIledugwetan Ciledug tempatku mengajar, harus memutar ke kecamatan lain, naik cator “motor beroda tiga” yang biasanya cukup naik perahu 20 menit dari sekolah. Anak-anak ini warga Kampung Palabuan Ciledugwetan, yang kerap dilanda banjir. Karena posisi kampung berada diantara kepungan tiga sungai yaitu sebelah timur Sungai Cijangkelok (perbatasan Jabar-Jateng) , diutara Sungai Cisanggarung dan di selatan Sungai Cigowang. Banjir tanggal 6 Maret 2011, tidak hanya merendam kampung Palabuan, Desa Cilengkrang Pasaleman, Bojongsari Losari Jateng, Bojongnegara Ciledug, Babakan Losari Pabedilan, Dukuwidara Pabedilan dan Losari Jabar.

Poto Petakala Grage

Jika sudah mulai hujan, suamiku mulai sibuk mengumpulkan info melalui hp “jadul” nya tentang kondisi cuaca di daerah atas Ciwaru, Cibinbin, Gunung Tilu dan Kuningan juga Luragung. Info yang dia dapat, diolah dan disebarkan melalui sms ke para kuwu (kepala desa), email, status di fb maupun tulisan-tulisan di blog.

Mengobati sedikit kegundahan suamiku dan kebetulan sekarang mah ada program EDS, jadi anak-anak sama Pak Herman bisa baca isi tulisan ini. Judulnya keren ya, padahal dapat ambil dari file suamiku hehehe :         

                ” Pengurangan Resiko Bencana Banjir Sungai Cisanggarung”.

Banjir

Banjir adalah dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.

Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia. Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan yang diatas normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya. Alih fungsi kawasan resapan air menjadi pertambangan/pengerukan galian C (tanah, atras, sirtu). Ini terbukti membuat semakin dangkalnya Sungai Cisanggarung. Pengerukan galian C di Kabupaten Kuningan yang sangat masif membuat warga di DAS Cisanggarung kebagian getahnya. Sudah saatnya kedua Pemkab (Cirebon dan Kuningan) bersinergi mengurangi dampak akibat dari kerusakannya, salah satunya adalah BANJIR !!!

Hasil pengumpulan pendapat ternyata masyarakat korban banjir tidak membutuhkan bantuan mie instan, lauk pauk dan beras bulog jika terjadi banjir. Yang dibutuhkan adalah tanggungjawab pemerintah memberikan rasa aman dan nyaman kepada rakyatnya.

Kenali Penyebab Banjir :

  • Curah hujan tinggi
  • Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
  • Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keluar sempit.
  • Pendangkalan di dasar sungai, akibatnya sungai mudah meluap.
  • Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
  • Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai.
  • Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.
  • Kelep pembuangan di saluran hilang atau tidak berfungsi.
  • Tanggul penahan air jebol atau rusak

Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir :

  • Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
  • Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir.
  • Pengerukan dan normalisasi sungai.
  • Peninggian tanggul penahan air.
  • Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.
  • Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program Pengerukan sungai.
  • Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
  • Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.

Yang Harus Dilakukan Sebelum Banjir :

Di Tingkat Warga

  • Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan lingkungan sekitar Anda, terutama pada saluran air atau selokan dari timbunan sampah.
  • Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk mengungsi lengkap dengan fasilitas dapur umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui koordinasi dengan aparat terkait, bersama pengurus RT/RW , Kadus,  BPD, LPMD setempat, dan LSM di lingkungan Anda.
  • Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim penanggulangan banjir di tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung Jawab Posko Banjir.
  • Pantau terus perkembangan curah hujan di daerah Kuningan, Luragung, Cibinbin, Ciwaru, Gunung Tilu dan Cidahu. Jika didaerah tersebut hujannya merata, bisa dipastikan air sungai akan meluap.
  • Koordinasikan melalui RT/RW, Kadus, Kuwu, BPD, LPMD setempat, dan LSM untuk pengadaan tali, tambang, perahu karet , perahu buatan dari ban/drum bekas dan pelampung guna evakuasi. Tentukan jalur evakuasi yang aman.
  • Pastikan pula peralatan komunikasi (hp, radio komunikasi, kentongan) telah siap pakai, guna memudahkan memberi dan mencari informasi, meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.

Di Tingkat Keluarga

  • Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah hujan dan posisi air pada pintu air.
  • Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: kantung plastic, radio baterai, senter, korek gas dan lilin, selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila ada.
  • Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi, gula, kopi, teh dan persediaan air bersih.
  • Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza.
  • Amankan binatang peliharaan seperti: ayam, bebek, entog, kambing dll ditempat/ kandang yang lebih tinggi.
  • Amankan dokumen penting dalam kantung plastic kedap air seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, buku-buku sekolah anak, sertifikat dan benda-benda berharga lainnya dari jangkauan air dan tangan jahil.

Yang Harus Dilakukan Saat Banjir :

  • Jika perlu matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.
  • Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.
  • Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.
  • Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir :

  • Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
  • Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.
  • Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.
  • Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.

Sumber : TOR Pengurangan Resiko Banjir dan Leaflet Set BAKORNAS PBP

Posted in: Bencana Alam