SUNDAWANI : “Saya bangga menjadi orang Sunda”

Posted on 16 Oktober 2011

0


Catatan Dari : Agung Ismail Mirza

Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian Barat Laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain Systems) yang panjangnya sekitar 7.000 km. Dataran Sunda (Circum-Sunda Systems) itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang lautan Pasifik bagian Barat serta bagian Selatan yang terbentang dari Timur ke Barat mulai Maluku bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India). Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai pulau Banda di Timur terus kearah Barat melalui pulau-pulau di Kepulauan Sunda Kecil (The lesser Sunda Islands), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai ke Arakan Yoma di Birma. Selanjutnya, dataran ini bersambung dengan kawasan Sistem Gunung Himalaya di Barat dan Dataran Sahul di Timur (Bemmelen, 1949; 2-3).

Dalam buku-buku ilmu bumi dikenal pula istilah Sunda Besar dan Sunda kecil. Pengertian Sunda Besar adalah Himpunan pulau-pulau yang berukuran besar, yaitu terdiri atas Sumatera, Jawa dan Madura, serta Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil yang kini termasuk ke dalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor (Bemmelen, 1949;15-16).

Puncak Pertala di Buana Nyungcung Gunung Sunda dijadikan Mandala Hyang, begitu juga dengan gelar Ba-Ta-Ra Guru yang menggantikan petilasan atau tempat yang sudah menghilang. Pada masa ini kehidupan wangsa menunjukan kemajuan yang luar biasa. Perkembangan budaya serta aplikasinya mencapai tahap yang luar biasa. Pada masa itu dicapai berbagai penemuan teknologi darat dan laut. Kemudian daerah ini terkenal dengan sebutan ‘Buana A-ta’ atau buana yang kokoh dan tidak bergeming. Oleh bangsa luar dikenal dengan sebutan ‘Atalan’ (mungkin maksudnya Ata-Land atau atlantis?). Kemajuan disegala bidang tersebut terhenti kembali, saat Gunung Sunda meletus (Gunung Ka-Ra-Ka-Twa). Daratan terbagi menjadi dua (Sumatra dan Jawa).

Semua bukti kemajuan jaman wangsa tersebut hilang, tenggelam tidak bersisa, yang tersisa hanyalah sebuah bentuk Ajaran Surayana. Persis kejadian di Batara Guru (Gunung Toba) yang wilayahnya meliputi Pa-Da-Hyang, begtu uga dengan Batara Guru (Sunda) yang wilayahnya meliputi Pa-Ra-Hyang. Ajaran tersebut kemudian dilanjutkan oleh Prabu Sindhu (Sang Hyang Tamblegmeneng, putra Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya) menjadi Ajaran Sundayana (Sindu Sandi Sunda) yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Perjalanan Prabu Sindu di wilayah Jepang membuat ajarannya diberi nama Shinto yang memuja kepada Sang Hyang Manon (Dewa Matahari atau Na-Ra) bahkan lambang dari ajaran tersebut kemudian dijadikan Bendera bangsa tersebut. Setelah itu ajaran tersebut menyebar sampai ke daerah India dan menyisir sebuah aliran sungai besar yang membelah sebuah lembah yang dikenal sebagai Lembah Sungai Sindu (orang Barat mengenalnya sebagai Lembah Sungai Hindus), tepatnya di daerah Jambudwipa.

Perkembangan ajaran tersebut sangat luar biasa sehingga menghasilkan sebuah peradaban tinggi ‘Mohenjodaro dan Harapa’ yang memiliki kemiripan nama dengan Maharaja-Sunda-Ra dan Pa-Ra-Ha/Hu yang kondisnya persis dengan sebuah tempat di wilayah Parahyangan sekarang ini.
Tulisan di adopsi di Foto Profil Deddy Madjmoe

Posted in: Budaya